cerpen
Kejenggkelan Ratna diawali ketika tiba-tiba "jadwal piket guru selama liburan" yang ia buat, ditolak, seraya berkata: "sudah bu, jadwal piket sudah dibuat oleh pa Waton". dan perlahan ratna menjawabnya: "oh,ya? syukurlah kalau sudah, maaf saya ga tau pa" jawab ratna dengan tersimpan sebercik keanehan didadanya karena, pa Warton yang saat itu sebagai bidkur, seolah selalu merebut tupoksi ratna sebagai wakasek seperti contoh lain, ketika ratna membuat absensi guru les, ia telah terlebih dulu membuatnya dan sama sekali tak menghargai adm buatan ratna, dan masih banyak lagi tupoksi-tupoksi yang mesti dikerjakan ratna telah terlebih dulu ia kerjakan. Dan Yang satu ini benar-benar mengherankan ketika ratna tahu bahwa ternyata jadwal piket guru pada liburan yang pa Waton buat itu tak tercantum nama ratna, akhirnya ratna menanyakannya ke kasek dan ke si pembuat itu, namun, apa jawabnya..., " itu piket untuk memantau bangunan proyek RKB yang akan dibangun selama liburan semester ini" ... subhanallah,... tidak pantaskah jika ratna yang jadi wakil kepala tidak diajak apa-apa atau malah tidak diajak bicara sedikitpun,...kemudian merasa tersinggung, merasa tidak dihargai, dan merasa disisihkan.... tidak pantaskah jika saat itu dijiwa ratna berkecamuk mengapa, mengapa dan mengapa. 25 tahun lamanya ia menjadi guru, tak pernah mengalami kejadian seperti itu. di si sih kan tanpa memahami penyebabnya.
Sampe sekarang sudah dua tahun lamanya Ratna sebagai Wakasek dibawah naungan kasek baru tapi, yang Ratna rasakan selalu disalahkan sampai pernah pada suatu hari diwaktu briefing, Ratna dibentak-bentak dihadapan umum disebabkan Ratna tak masuk kerja 2 hari jumat dan sabtu, kakanya yang di Bandung meninggal dunia,itu penyebab ia tak masuk kerja,dan padahal Ratna pun menelpon kasek memberitahukan kondisi hari itu dan mohon ijin tak masuk kerja.
Anehnya lagi, pernah terjadi, seorang rekan curhat sakit hatinya karna ulah kasek yang menggunakan uang piknik sehingga ia kebingungan karna piknik yang ia ketuai hampir tak jadi. ia
bebeakan curhat hal itu padaku. nah, kejadian ini telah mengkondisikan hati dan rasaku menjadi tak simpati pada beliau. Namun apa yang terjadi kini... rekan kerjaku yang menjelek-jelekan beliau seperti sengaja menjauhkan diriku dari beliau. Kasek seolah menbenciku dan seolah ingin memisahkanku dari hatinya dan dari rekan-rekanku namun dia yang semula menjelek-jelekannya seperti sangat dekat dengannya jeung KAPAKE PISAN. Oh... inilah keadaan dunia.
satu lagi pengalaman pahit yang terjadi:
"atasanku menyuruhku memantau rekan-rekan yang lambat datang kemudian melaporkannya pada beliau sehinggga absensi pegawaipun dianjurkan ada 2: yang satu di ttd setiap hari walau tak datang or lambat datang, satunya yang jujur/jika seseorang pegawai lambat datang tulis lambat berapa menit niscaya dapat terkontrol oleh beliau. kulaksanakan hal itu sesuai tugas dari beliau, tapi, eh... setelah kulaksanakan ga da tindak lanjut dari atasan, ini yang membuatku merasa dijatuhkan beliau dihadapan rekan-rekan. ternyata atasanku tak istiqomah, atasanku tak teguh pendirian, atasanku plinplan. Akhirnya, kini... aku diam, diam 1000 bahasa, biarkanlah segalanya mengalir bagaikan air, mau keruh mau jernih aku tak peduli yang penting aku dapat gaji. lantas, mana RUHUL JIHADKU? jihadku ada bersama bunga bangsa diarena TRQ. jihadku adalah langkah menanamkan, membiasakan putra, putri sebagai bunga bangsa kepada jalan yang benar yang diridhai Allah Swt seperti, cinta al Quran, cinta kedamaian, cinta kedisiplian menuju bahagia dunia dan akherat.
Lagi, dahulu, yang paling menyakitkan ada kabar bahwa kasek sering kumpul-kumpul musyawarah dengan para PKS tapi Ratna sebagai wakasek tak pernah tahu dan tak pernah diberi tahu. Ratna tak mengerti mengapa situasi seperti ini terjadi dan berlarut-larut. Ratna merasa selalu disalahkan. Ratna bagaikan sakitan yang baru keluar dari penjara. O, Allah, inikah ujian keshobaran? sehingga Sahabat Ratna pun salah seorang PKS memberikan semboyan pada mereka (kasek dan wakasek)"pasangan maut". Hah?! maut?... pikir Ratna bergema dalam jiwanya. mengapa? mengapa? dan mengapa? "Jika ada kata or langkahku yang salah, mestinya tegor langsung face to face" begitu gumam hati Ratna. itulah sebabnya Ratna berhasrat mau mengundurkan diri jadi wakasek (walau hal ini hasil pilihan dewan guru secara foting). Dan Al hamdulilah, harapan belum tercurahkanpun kasek sudah bilang bahwa tahun depan tak kan ada wakasek,ini dikarnakan ada surat perubahan struktur organigram baru dari diknas. begitu, terang kasek.
Terlepas dari benar atau tidak keterangan itu, Ratna merasa senang dan plong hatinya, seolah akan keluar dari belenggu. Belenggu dari jabatan wakasek yang tak pernah terkondisikan jobnya, sehingga kondisi itu membuat langkah Ratna kaku.
Saat-saat pembagian tugas dan pembentukan organigram baru, Ratna tak bisa hadir, acara keluarga yang dianggapnya penting tak bisa ia tinggalkan. ditambah lagi ia menerima tlp bahwa kakak sepupunya di cirebon yang sangat dekat dengan hatinya sakit keras maka, Ratna pun permisi dari arena rapat pembagian tuga dan pembentukan organigram baru itu.
Setibanya kembali diarena kerja, Ratna dapat khabar dari teman bahwa ia diposisikan sebagai wakasek Humas. "Subhanallah!" bisik hatinya kaget. ia tak menyangka kalau dirinya masih akan diberi posisi jabatan apapun oleh kasek yang ditakutinya itu. tapi disisi lain ia bersyukur. "ini berarti kasek masih mempercayaiku" begitu pikir Ratna. Ratna pun berterima kasih dihatinya dan berniat mau berbuat seperti yang kasek harapkan yakni bekerja "sesuai Job" dengan baik.
Ratna sering merenung, menghayati langkah-langkahnya yang salah atau yang kurang berkenan dihati pemimpin. Ratna mau berusaha ingin lebih baik, dan ingin berusaha bekerja dengan sungguh-sungguh pada jobnya sebagai Humas. Ratna senantiasa ingin berusaha umenjaga kestabilan hubungan harmonis dengan pimpinan.
Alhamdulilah, harapan itu pun hampir terwujud. Ratna diberi tugas membuat undangan rapat wali siswa. Langsung ia bekerja dengan penuh semangat dan mengkondisikannya sebagai mana mestinya sampai hari H terwujud. itu untuk wali siswa kelas IX dan VII
Adapaun untuk wali siswa kelas VIII, dikarenakan rapat ortu/wali siswa di kecamatan Dayeuh hayaman akan dilaksanakan jam 1 siang, dan kebetulan hari selasa itu Ratna punya kegiatan rutin dilanggar RW.03 maka, Ratna berencana hadir jam 12-an, usai shalat duhur ; toh, disekolah hari selasa pagi aku tak da jadwal ngajar" begitu pikir Ratna.
Walau begitu, usai pengajian tetap pikirannya ketugasnya sebagai wakasek humas hari itu yakni, “mengkondisikan rapat ortu”. itu sudah menjadi agenda kegiatanku hari itu, begitu pikir ratna. jadi, sepulang pengajian pun langsung ia membuat di rumahnya “daftar hadir rapat ortu/wali siswa” -kebetulan di rumahnya ada komputer lengkap dengan printernya- dan, begitu terdengar adzan duhur Ratna udah siap sholat duhur dan berpakaian PSH warna kaki sesuai yang harus dipakai setiap hari selasa.
Jam 12.25 Ratnapun sudah datang disekolah, karena acara rapat ortu sudah menjadi agendanya sebagai wakasek HUMAS.
Datang disekolah, kegiatan KBM masih berlangsung, Ratna segera menuju ruang kelas seb.utara yang mesti telah dibongkar dinding papan itu sehingga 2 kelas itu menyatu dan ditata kursi untuk rapat. Kebetulan gurunya dikelas itu berhalangan hadir, siswa yang tengah melaksanakan tugas ia hentikan dan ia suruh para siswa membereskan ruangan/membereskan untuk rapat. Dengan giat dan riang anak-anak mengikuti arahannya, kemudian ia minta bantuan bapa penjaga sekolah untuk melanjutkan membimbing para siswa mengkondisikan ruangan, sementara ia (Ratna) harus segera menuju kedepan untuk menerima tamu karena sudah terlihat beberapa tamu telah datang.
Selanjutnya, dengan agak repot ia menerima tamu yang membludak, tak ada yang menemani karena rekan-rekan gurunya lagi pada sholat duhur, Ratna sendiri melayani mereka tamu yang datang dan mengarahkan para tamu untuk mengisi tanda tangan kehadiran.
Setelah yang hadir terlihat sudah lebih dari setengah korum, Ratna meminta tolong pa Onan untuk memberi tahu pa Kasek di bale badminton, agar beliau segera hadir. Beberapa menit kemudian pa Kasek datang langsung sholat dhuhur, sedangkan waktu telah menujukan jam 13 lebih, dan menyusul kemudian pa Ketua Komite datang.
Yang Ratna herankan, Pa Nidi sepertinya sudah berada diruang rapat dari tadi, tanpa membantu menerima tamu atau apa. Ketika Ratna telah melihat Pa Kasek dan Ketua Komite menuju ruang rapat Ratna mepersilahkan bu Hane menjadi notulen. Maka, bu Hane segera menuju ke ruang rapat itu, sementara Ratna masih menerima beberapa tamu yang hadir sampai kemudian bu Ail mempersilahkan nya ke ruangan dan bu Ail siap menggantikannya tuk menerima tamu. "Terima kasih" sambut Ratna pada bu Ail yang memahami akan kondisi kesibukan.
Tapi "heran, kudengar hawar-hawar sepertinya acara telah dimulai" gumam hati Ratna seraya menuju ruang rapat itu. "tanpa melihatku rupanya pak Nidi yang dari tadi telah berada diruang rapat yang kukondisikan itu, ia telah membuka rapat, ia menjadi moderator" pikir Ratna lagi, tapi Ratna tetap menuju ruang rapat itu. Terlepas ia disuruh kasek atau siapa, tanpa sedikit menghormati rekannya yang telah dengan sengaja datang hanya untuk rapat dikarnakan rasa tanggung jawab sesuai jobnya.
"Aku harus tetap memberanikan diri menuju ruang rapat yang tadi telah kukondisikan itu dan telah kususun pula susunan acaranya tempo hari dengan disepakati kasek" aku harus memperlihatkan diri ke kasek bahwa aku bertanggung jawab atas tugas yang dipercayakan padaku "begitu pikir Ratna seraya menuju ruang rapat itu. dan tanpa jadi apa-apapun aku harus hadir disana begitu pikir Ratna karena, rasa taggung jawabnya sebagai humas. "aku harus tahu kondisi masyarakat termasuk orang tua/wali didalamnya" pikirnya lagi.
Sesampainya di ruang rapat, ternyata benar, Pak Nidi telah memposisikan diri menjadi moderator. Disana, sungguh kejanggalan yang mengagetkan, satupun tak tersedia kursi untuknya. Tak apalah… ahirnya, Ratna yang sedang belajar sabar duduk bersama para undangan (bapak/ibu, wali siswa), ia duduk paling belakang dan… ia merenungi segala kejadian… dari dulu-dulu… sampai detik ini, saat-saat yang paling mengagetkan dalam sejarahnya menjadi guru sejak tahun 1983. Baru dilingkungan sekolah inilah ia merasa sering disisihkan. ia merasa heran "Mengapa Pa Nidi mau jadi moderator tanpa basa-basi atau kompromi dulu padaku yang mana dari awal aku yang mengkondisikannya" gerutu Ratna dihatinya. Ratna merasa "ini jobku" sebagai wakasek humas. "mengapa tak ada komunikasi dulu sebelumnya?" Ratna tak habis pikir.
Sementara Ratna ingin berusaha melangkah bekerja dengan baik pada jobnya. Ratna ingin menyetop semboyan temannya bahwa Ratna dengan kasek adalah "pasangan maut". Ratna ingin semboyan "pasangan maut" itu dapat terkondisikan menjadi "pasangan hidup", karena itu Ratna sedang berusaha kearah sana, itulah sebabnya Ratna pada kesempatan ini ingin mengkondisikan diri sesuai job yang telah dipercayakan pemimpinnya kepadanya, namun, apadaya jika baru selangkah saja sudah neunggar cadas.
Ketika Ratna mencoba bertanya pada pa nidi itu, dia bilang disuruh pa bidkur (?) ow, ada apa dengan Bidkur. trus ketika Ratna tanya langsung Bidkur, bidkur bilang karena ia sebagai bidkur tak bisa hadir maka harap diwakili oleh Nidi, ow. emang sebagai apa status nidi? "mengapa bukan padaku yang terkait? ah, bingung aku!" begitu pikir Ratna. beribu pertanyaan mengapa dan mengapa sedikit meracuni hati Ratna dalam benaknya. "O, Allah, inikah ujian keshobaranku dari Tuhan??? Atau karena memang rasa sensitif dari jiwa yang telah tua? Inikah jiwa di usia senja? O Allah, Lindungilah aku ya Allah, lindungilah hatiku dari rasa-rasa yang tak tentu, O Allah, hanya Engkaulah yang Maha memahami hati dan jiwa ini. berilah aku ketabahan dalam menghadapi ujian rasa dilingkungan lembaga ini. Ketika aku berada diposisi wakasekpun sama sekali tak pernah dikondisikan oleh beliau kearah job yang sebenarnya, aku bagaikan napi yang baru keluar dari tahanan........." hati Ratna berkecamuk.
segala langkah selalu dipandang salah dan tertuduh..............apakah orang yang pernah salah (menurut pandanganmu) dalam pandangan anda akan selalu disalahkan pada setiap langkah apapun ??????????????? ! sehingga aku selalu disisihkan dan diacuhkan" pikir Ratna. .......................................
Ahirnya, Ratna berdoa dalam setiap langkah seraya menuju ruang istirahat usai bubar rapat: "O, Allah, aku rindu kawan-kawan guru masa lalu, dimana terasa hati menyatu, saling menghargai dan saling menghormati. Lindungilah kami ya Allah. Hanya Engkau yang dapat menjelmakan kembali hati dan jiwaku dalam kedamaian bersama kawan-kawan".
Salam Rindu kepada para alumni SKKPN Kuningan.
Kekeluargaanmu tiada tara. tidak saling menjatuhkan, tidak saling sikut menyikut, malah saling menghargai saling menyayangi sungguh hal itu sangat terasa.
bilakah kondisi itu akan kembali terasa? Allaahu Akbar.